New to Busy?

Allah Panglimaku! Siapa Yang Bisa MengalahkanNya?!

4 comments

mariska.lubis
65
15 days ago5 min read

Semua ada masa dan waktunya, dan seringkali waktu harus disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan prioritas. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, keyakinan dan iman yang teguh akan menghapus segala takut dan keraguan. Biarlah Allah yang memimpin dan menjadi panglimaku, aku tidak akan pernah menyerah.

Berkibarlah Benderaku

Suara panggilan azan membangunkan saya pagi ini, saya yang biasanya selalu bangun dan baru tertidur setelah matahari menampakkan wajah cerianya, malam ini saya terlelap di sofa. Laptop masih menyala dan lampu masih menyala, benar-benar di luar kebiasaan. Ada yang salah? Tidak, barangkali karena saya terlalu lelah mencari jawaban dan solusi, yang pada akhirnya terjawab sendiri setelah bulir-bulir tasbih menemani saya bercinta denganNya.

Suara di hati saya berkata dengan lantang, "Allah Panglimamu, Mariska!".

Saya sempat terhenyak sendiri dan terkejut mendengarnya. Kenapa saya begitu bodoh selama ini? Manusia tak ada yang bisa diandalkan dan dijadikan kepastian meski selama ini selalu bersuara keras dan lantang, namun waktu jualah yang membuktikannya. Allah tidak pernah salah, selalu memberikan yang saya butuhkan. Selama beberapa waktu ini saya selalu memohon agar rakyat Indonesia diberikan pemimpin yang benar tulus dan ikhlas, membantu rakyat dan memimpin perjuangan. Boleh dibilang, tidak ada lagi yang benarbenar berani maju di depan, entah apa pun alasannya.

Sungguh sebenarnya saya merasa sangat kecewa. Jika sebelumnya suara-suara lantang menggema, bergemuruh memenuhi hati dan jiwa rakyat untuk terus semangat berjuang, kini sepertinya hanya ada bisikan-bisikan yang tidak pasti. Saya sedih karena seharusnya pada saat sekarang inilah rakyat diberikan kembali semangat agar tidak pudar segala rasa yang ada. Kasihan rakyat yang sudah berjuang selama ini, mereka berikan apapun, termasuk harta dan benda dengan ikhlas bagi perjuangan. Jangan sampai rakyat kembali dikecewakan dan merasa dikhianati.

Perjuangan pun seperti dilakukan sendiri-sendiri dengan cara masing-masing, meski ini adalah baik, namun hanya dengan bersatulah kita bisa lebih kuat. Bukan alasan bila ada rasa takut akibat berbagai ancaman, intimidasi dan lain sebagainya, apalagi alasan karena kehabisan dana perjuangan. Bagi saya alasan-alasan ini adalah konyol, pejuang tangguh tidak akan pernah ciut dan menyerah dalam kondisi apapun. Prioritas tetap utama dan didahulukan. Pantas Allah belum mengabulkan doa-doa, kita sendiri yang masih munafik dan tidak berusaha maksimal. Hanya berani marah, kesal, dan cengeng mengeluh, namun untuk maju dan berani melakukan sesuatu bersama pun tidak ada keberanian. Terlalu banyak alasan untuk berkorban dan ikhlas. Payah!

Sebelumnya saya merasa kasihan dengan rakyat yang ingin mengawal sidang MK pada hari Jumat tanggal 14 Juni ini. Ada banyak keraguan dan kebimbangan, mengingat tidak ada kejelasan siapa yang yang akan memimpin rakyat pada hari itu? Dimengerti bila BPN dan koalisi tidak "bisa" ikut campur, namun hendaknya lakukanlah sesuatu yang bisa membantu rakyat tenang dan tidak khawatir. Berikan segala daya upaya yang bisa dilakukan, meski harus lewat tangan-tangan dan suara lain untuk menjelaskan dengan cara yang lebih baik. Rakyat butuh mengerti dan paham, cara-cara pragmatis tidak membantu. Harus ada pemikiran dan penerapan politik yang strategis untuk disampaikan. Perjuangan ini bukan sekedar acara televisi dan debat biasa, ini adalah soal masa depan bersama.

Rakyat pun sudah paham bagaimana kualitas politisi saat ini, hanya sebatas pragmatis, sangat jarang yang memiliki kemampuan berpikir strategis. Banyak berbual dan berjanji, namun untuk mengambil momen saja tak mampu apalagi berstrategi tiga langkah seperti para ulama dan pejuang kemerdekaan di masa lalu. Memang beda, tidak ada yang mampu dan sehebat mereka di masa lalu. Menyedihkan! Percuma segala gelar dan nama itu!!!

Begitu juga dengan para ulama. Ada banyak kekecewaan yang terurai, dan saya tak mengerti ke manakah para ulama yang seharusnya paling berani di depan karena Allah? Apakah rasa takut dan berbagai alasan itu membuat semua diam dan tak berkutik? Bagaimana dengan rakyat yang selama ini yakin dan percaya? Bagaimana hal ini bisa terjadi?!Lihatlah bagaimana Buya Hamka pun tidak mengeluh dan ciut perjuangan meski ditangkap dan dipenjara. Beliau malah bersyukur karena diberikan kesempatan berpikir dan berkarya. Tidak ada teriak-teriak dan cengeng! Diam dan menyerah tak ada dalam kamusnya.

*"Oh Tuhan, maafkanlah kami semua yang sudah terlalu banyak bicara namun takut menepati kata-kata dan memenuhi janji-janji kami". *

Saya kemarin menyebarkan himbauan kepada semua yang hendak hadir mengawal acara sidang MK untuk mengenakan pakaian daerah, untuk faktor keamanan dan agar mendapat perhatian dunia internasional. Sebenarnya ini adalah upaya agar tidak ada lagi tuduhan-tuduhan radikalisme dan hanya berkutat soal perjuangan kubu oposisi, sebab bagi saya ini adalah perjuangan rakyat untuk mendapatkan hak-haknya, yaitu keadilan, kemerdekaan, rasa hormat dan harga diri, serta kedaulatan.Ini bukan perjuangan atas nama kubu tertentu atau hal lainnya, murni dari rakyat yang hatinya diketuk dan dibukakan Allah untuk berjuang bersama. Baju daerah adalah simbol kehormatan dan harga diri, soal keimanan biarlah Allah yang menilai. Pakaian tidak menjamin keimanan, namun berani berjuang dengan segala kesabaran dan keikhlasan yang membuktikannya. Rasulullah dengan pakaian penuh tambalan pun tidak membuat beliau lantas dianggap hilang keimanannya.

Selain itu, jika dipikirkan baik-baik, ini adalah cara rakyat untuk menyelamatkan BPN dan koalisi serta ulama dan FPI. Jangan sampai ada tuduhan-tuduhan kepada mereka yang lalu semakin membuat mereka ciut dan tak mampu bergerak lagi. Jangan pula ada korban-korban selanjutnya dari mereka, biarlah rakyat yang berkorban. Perjuangan ini masih panjang. Rakyat begitu baik dan saya tidak berharap untuk diingat, namun ingatlah selalu bagaimana pengorbanan rakyat bagi semua. Rakyat berhak berjuang mendapatkan hak-haknya, sementara kewajiban pada pemerintah sudah dipenuhi, siapa yang berhak melarang? Rakyatlah yang berkuasa atas negeri ini, bukan pemerintah atau segelintir orang, bukan aparat keamanan dan apalagi orang asing! Allah Maha Melindungi umatnya yang yakin dan berpegang teguh pada kebenaran.

Benar, Allah adalah pemimpin dan panglima. Hanya kepada Allahlah kita semestinya berharap dan bersandar. Restu dan ridha Allahlah yang bisa membuat kita menang. Hanya Allah yang mampu melindungi kita semua, bukan yang lain. Beruntunglah masih diingatkan, Allah sungguh Maha Pengasih lagi Maha Pemurah. Segala puji bagiNya.

Teruslah semangat dan jangan menyerah! Allah selalu ada! Merdeka!!!

Bandung, 12 Juni 2019

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

Comments

Sort byBest